Perang iklan NO, kualitas YES 6

Rabu, 14 Jul '10 15:34

Iklan operator selular menyesaki halaman koran Kompas 14 Juli 2010. Mereka  berlomba memikat konsumen dengan program-program murahnya. Kebetulan mulai 14 Juli hingga 19 Juli ini ada hajatan besar tahunan industri telekomunikasi selular, yakni ICS. Di situ operator, vendor penyedia handphone tumpek blek pamer layanan dan tentu saja berjualan.

Dalam acara pembukaannya, Ketua Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno menyebutkan bahwa jumlah pelanggan selular di Indonesia saat ini 180 juta. Mungkin tepatnya ini adalah jumlah kartu selular yang beredar, dan diperkirakan sekitar 120 jutaan yang kartu aktif. Dari situ diperkirakan menghasilkan total pendapatan di atas Rp 100 triliun.

Industri telekomunikasi memang bergerak. Ia ibaratnya revenue generator bagi pelbagai industri di sekitarnya. Baik dari hulu sampai hilir. Dari pengisi pulsa 'asongan' sampai pengusaha penyedia tower. Dari pedagang asesoris sampai jasa penyewaan genset untuk BTS. Dari penyelenggara acara kecil sampai biro iklan besar kelas dunia. Dan memang industri telekomunikasi telah menjadi salah satu indikator pertumbuhan Indonesia. Karenanya seperti pernyataan ketua ATSI, bahwa pertumbuhan tinggi industri ini perlu diimbangi dengan upaya terus menerus untuk edukasi pelanggan.

Perang iklan, perang harga memang kemudian menjadi ciri industri yang pertumbuhannya masih 2 digit ini. Tentu saja 'perang' ini juga menyenangkan bagi pelanggan jika juga diimbangi dengan 'perang' layanan. Sehingga pelanggan tak hanya bisa memilih yang harganya sesuai kantong, tapi juga yang kualitasnya sesuai kebutuhannya. Dan tampaknya inilah yang masih jauh panggang dari api.

Pertanyaan selanjutnya,

1. Apakah sebagai pelanggan telepon bergerak Anda puas dengan tarif murah dan kualitas layanan yang ada?

2. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan kalau Anda pada posisi operator?


Tag: telekomunikasi, Perang Tarif, ATSI, ICS, pendapatan telekomunikasi, kualitas layanan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    yusro 0 0
    Tak pernah merasa apakah tarifnya murah ato mahal.Ditagih segitu, bayar segitu, ditagih segini, ya bayar segini. Tapi kalo kualitas, sering banget ngrasa perubahannya. Operator pas promo tarif murah voice, bisa diprediksi out going call bakal terganggu jreng.

    Membayangkan ada operator yang berani bikin layanan premium. Tarif bisa 150% dari tarif umum, tapi kualitas keren.
    nisbi 0 0
    Melanggani 3 operator, tapi tetap gak puas, masing-masing punya kelemahan yng nyaris sama: kapasitas.

    Kapan ya ada perang quality of service dari operator?
    orangdalam 0 0
    Pokoknya ndak puasssssss, sambil gigit hape : ))

    Kalo jadi operator: saya akan keluarkan produk baru, yang yakin gak ada yang berani bikin. Yaitu Nopaid. Operator lain punyanya coma Prepaid dan Postpaid kan : ))
    Kaka 0 0
    1. kalau ditanya puas, ya nggak banget lah. cuma terpaksa aja. tidak ada pilihan lain.
    2. bikin layanan klas bisnis dan klas ekonomi. yang mau bayar lebih dapat layanan lebih baik. Bisakah operator melakukan spt itu?
    Kaka 0 0
    nisbi: PM tentang kualitas layanan sih sudah ada, cuma belum tahu ya..sejauh mana PM itu sudah diaplikasikan. Mesti tanya ke regulator...
    Agus Purwadi 0 0
    kepuasan pelanggan bagi saya masih jauh dari harapan sebagai konsumen.. tarif rasional dan kualitas layanan yang bisa memberikan jaminan adalah keinginan pelanggan.. bukannya kita ingin murah dan bukannya gak mau bayar mahal..

    Silahkan login untuk memberikan pendapat