Perang tarif layanan BB murah 11

Minggu, 4 Jul '10 22:59

Tak bisa dihindari perang tarif layanan BlackBerry/BB terutama BIS  terjadi. Pemicunya axis yang tahun lalu luncurkan layanan BB dengan tarif lebih murah dibanding 3 operator lain yang sudah terlebih dulu "menjual" BB di Indonesia. Saat itu axis berani menawarkan harga layanan BB-nya seharga Rp 100 ribu/bulan atau bundling Rp 70 ribu/3 bulan.  Kemudian saat Three merilis layanan BB-nya  janjikan tarif paling murah, Rp 88 ribu + ppn atau Rp 96.800.

Seperti yang terjadi dalam layanan dasar telekomunikasi, maka di lini BB pun perang "harga" layananpun mulai terasa sengit. Selain tarif bulanan, para operator ini juga menawarkan tarif harian, mingguan yang menarik, diharapkan bisa jadi "entry point" bagi calon pengguna untuk mencoba layanan BB. Setelah mereka menikmati dan addicted dengan BB, harapannya akan migrasi ke layanan bulanan. Makanya, tak heran jika operator pun kembali berlomba mereduksi tarif langganan bulanannya untuk "mengikat" pelanggan coba-coba tadi.

Pada minggu ke 3 bulan Juni, XL kembali mengkoreksi harganya menjadi  Rp 99 ribu/bulan, yang berlaku bagi semua pelanggan baru, dan existing. Tampaknya axis, si pemicu persaingan pun tak mau ketinggalan, 3 Juli lalu, ia merilis harga langganan baru Rp 79 ribu/bulan termasuk PPN.

Sementara dua pemain besar lainnya, tampaknya ogah ikut perang tarif. Telkomsel mematok tarif BIS Rp 150 ribu/bulan (rp 120 ribu di bulan pertama), dan indosat rp 160 ribu/bulan. Selain itu Indosat juga menawarkan paket gaul (hanya untuk social networking) harian rp 2.200/hari.

Dalam konteks ini sepertinya Telkomsel merasa pede untuk menjual layanan BB-nya ke pelanggannya yang berjumlah 80 juta. Si operator merah walau merilis servis BB belakangan, ia berhasil 'mencuri' pelanggan,  sudah menggenggam sekitar 420 ribu. XL yang paling agresif diperkirakan 400 ribu pelanggan. Sementara Indosat, kendati pionir, harus puas dengan jumlah pelanggannya yang sekitar 350 ribu. Three yang muncul belakangan dengan icon Agmon yang atraktif berhasil memetik sekitar 80 ribu, melampuai pelanggan axis yang  baru menapak ke angka 50 ribu.

Pertanyaan menjadi menarik, dengan perang tarif servis BB ini apakah cukup pendapatannya untuk menutup biayanya? Harga servis bulanan yang mesti disetor ke RIM USD 6 atau sekitar Rp 57 ribu (asumsi 1 dolar Rp 9500). Di luar biaya servis itu, operator juga mesti menyediakan link/bandwitdh internasional yang tentunya tidak kecil.

Operator besar memang sedikit lebih beruntung, karena kabarnya mereka berkesempatan untuk 'revenue share' dengan RIM. Dengan dipatok target pencapaian pelanggan pada akhir 2010: X number, operator tersebut, katanya mendapat tarif khusus USD 4 untuk langganan bulanan. Jika target tak tercapai maka operator tersebut tetap harus menutup keseluruhan jumlah yang sudah disepakati dengan RIM, misal 100 ribu x USD 4. Untuk mengejar target itu maka  operator incumbent ini pun ikut terjun di perang tarif.

Deal  bisnis seperti di atas tentu tidak berlaku bagi operator kelas medioker.  Dengan harga yang dipatok axis sebesar rp 79 ribu (termasuk PPN), pendapatan bersihnya Rp 71,8 ribu. Marjin sangat tipis ini masih harus dibagi untuk biaya penyediakan layanan BB (infrastruktur maupun pemasaran), hasilnya bisa nol atau bahkan subsidi.  

Bisa jadi operator berharap bisa menutup subsidi di layanan BB dari penggunan pulsa dan akses GPRS. Lazimnya pengguna BB, dia tidak hanya menggunakan APN BB, tapi seringkali juga melakukan browsing menggunakan APN operator yang dikenakan tarif GPRS. Pengguna BB juga tak jarang menggunakannya untuk ngobrol dan SMS.

Masalah serius yang selalu mengiringi perang tarif --seperti halnya perang tarif pulsa di masa lalu-- adalah kualitas layanan. Tarif murah memang cara jitu menjaring pelanggan baru. Setelah pelanggannya bertambah banyak, layanan bisa diduga menjadi lelet. Maklumlah BB adalah pengkonsumsi bandwidth yang cukup rakus, sedang operator tak bisa dengan cepat menambah bandwidth ketika terjadi lonjakan pelanggan secara eksponensial.

Jika operator pelaku perang tarif layanan BB ini tak segera menambah bandwidth, tentu perang tarif akan beresiko. Para pelanggan lama pasti akan berteriak ketika layanan BB menjadi lambreta. Pelanggan baru pun akan mendapatkan pengalaman buruk berBB.

Entah apa yang melatarbelakangi perang tarif ini, yang pasti existing pelanggan BB, bukanlah segmen  yang sensitif dengan tarif. T-Sel dan I-Sat mungkin bisa menjadi bukti. Meskipun harga layanannya paling mahal, toh jumlah pelanggannya  tetap tumbuh. Artinya yang dicari pemakai BB bukanlah tarif yang murah semata, tapi layanan yang memadai. Bagaimana menurut Anda?

 

Ilustrasi ambil tanpa permisi dari sini

 

 


Tag: Telkomsel, XL, Indosat, Axis, tarif servis BB, three, tarif murah, kaulitas layanan BB, rakus bandwitdh

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    madame 0 0
    pastinya layanan BB mulai nyebelin, lambat bbm-nya, dan sering SOS sinyalnya, termasuk yang 3 besar. Mestinya pelanggan yang ga mau tarif murah bisa dapat priviledge untuk menikmati layanan yang lebih baik. Bisa ndak ya operator bikin kayak gitu?
    kemalarsjad 0 0
    Orang2 Operator masih nge treat layanan Data, seperti layanan Voice dan SMS, padahal secara target market sangat berbeda dan behavior marketnya juga sangat berbeda, IMHO, operator men spoil market dengan cara yg salah, ini akan jadi Bom waktu untuk Industri Mobile Data di Indonesia
    nisbi 0 0
    Operator kok ya ndak belajar dari perang tarif pulsa. Yang didapat kan cuma pelanggan temporary, bukan loyalis. Tapi akibatnya, network jadi kacau biola karena kebanyakan loading. Nah perang tarif di BB rawanya akan sama. Jaringan bakal njeglek lagi. Pelanggan existing pasti merasa dirugikan.

    Mbok ya operator itu perangnya di kualitas layanan aja. Bayar mahal dikit ndak jadi soal, yang penting kualitas cling.
    orangdalam 0 0
    Latah tenan ki. Pelanggan BB kok disamakan dengan pelanggan hape musiman. Nanti kalo servisnya jeblok, operator bilang: "Lha wong bayar murah, kok minta layanan bagus" : ))
    yusro 0 0
    Mari kita tunggu how low can you go. Dan tunggu juga berapa banyak pelanggan lama yang komplain karena servis BB jeblok : )
    vlisa 0 0
    @Kemal: efek melihat bisnis jangka pendek, yang penting number increase. Padahal bisa saja growth yang ada 'semu'. Sebenarnya saya menunggu operator2 besar itu bisa treat bisnis data ini secara benar, seperti ente bilang di atas.
    vlisa 0 0
    nisbi : di area voice, kalau tidak salah operator sdh bisa membedakan mana pelanggan premium dan yang lainnya. sehingga pelanggan jenis premium bs dapat jalur yang lebih lancar di network. Mungkin saja model ini jg bisa diaplikasikan di area data. sehingga u pelanggan yg mau bayar lebih, bisa dapat kualitas lebih baik.
    bbfreak 0 0
    hari ini Indosat mengeluarkan paket Irit 100 ribu tanpa WiFi ...
    bbfreak 0 0
    vlisa : untuk operator medioker, memang peningkatan jumlah pelanggan sangat penting, tapi jelas butuh sokongan dana operasional dan pengembangan yang tidak kecil juga karena tidak bisa di harapkan dari direct revenue produk nya
    bbfreak 0 0
    madame: Mestinya pelanggan yang ga mau tarif murah bisa dapat priviledge untuk menikmati layanan yang lebih baik. Bisa ndak ya operator bikin kayak gitu?

    Me: bisa banget ... ada kok teknologi nya. kalau sekarang saja susah memanfaatkan income untuk pengembangan, bagaimana teknologi tersebut mau di implementasikan. : )
    vlisa 0 0
    bbfreak: walah secara teknologi bisa, kyknya ga mungkin ya diimplementasikan sekarang, begitu kesimpulannya. kayak telor dan ayam dong. nunggu income cukup u investasi, ya susah, wong perang tarif. Nasib pelanggan.....

    Silahkan login untuk memberikan pendapat